Monday, June 20, 2011

Pelajaran Hidup~


“Well is one thing to fall in love
But another to make it last
I  thought we were just beggining
And now you say we’re in the past
Look me and the eye you told me
We are really true
You know is one thing to say you love me
But another to mean it from the heart
And if you done in ten to say it true
Why did we ever start
I wanna hear you tell me you dont wont my love
Put your hand on your heart and tell me its so lover
I wont believe it to you
Put your hand on your heart and tell me that we’d true”
Hand on Your Heart-Dira Sugandi

Alunan piano yang lembut menghantarkan aku untuk terus mendengarkan lagu itu. Bukan sebab karena lagu itu populer. Tetapi lebih karena lagu itu memiliki arti bagi hidupku. Arti hidup yang sangat dalam bagiku. Bagaimana aku belajar tentang sesuatu yang diberikan Tuhan untukku. Selama ini aku hanya menyianyiakan apa yang diberikanNya untukku. Ini bukan tentang percintaan, ini tentang bagaimana aku melihat orang lain yang kurang beruntung, Aku tahu memang tidak ada hubungannya dengan tema di lagu itu. Tetapi bagaimana sang penyanyi ini menghayati lagunya dan bagaimana sang pianis menekan tuts dengan sangat lembut dan mengalir, membuat lagu ini bermakna berbeda untukku.

Ini berawal ketika aku dan keluargaku makan siang di restoran steak di semarang. Aku memesan EXTRA BIG STEAK yang sangat menggiurkan. Ya, bukan itu topik utamanya. Well, ditengah-tengah kami didatangi seorang anak laki-laki seumuranku. Ia menawarkan kue kering buatan ibunya, harganya mahal dan (maaf) bentuknya tidak seperti yang diharapkan. Aku tahu apa yang ada dipikiran orang dan tatapan apa yang akan mereka lontarkan ketika mereka melihat kue itu dengan harga yang tidak setimpal. Mungkin saja mereka akan tertawa dan berkata “Hah?! Kue kaya’ gitu kok dijual?” dan mengolok-olok mereka (korbansinetron-_-). Tetapi, ada yang membuat diriku untuk membeli kue-kue jualannya.

Aku merasa iba. Karena dia tidak seberuntung aku, ia berbicara dengan gagu dan ia memiliki masalah dalam mentalnya. Dengan usaha yang keras dia terus menawari kami kue-kuenya. “Kuenya bu.” Ucapnya dengan lirih, ia mengulanginya berkali-kali. Matanya tidak menatap kami, tetapi tatapan polos pada makanan dihadapanku. Matanya yang lelah seperti mengisyaratkan kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang dihadapi. Dalam hatiku aku menangis. Aku tidak bisa mengeluarkan air mataku begitu saja di depan umum. Aku hanya menahannya. Kalau tidak, orang-orang di sekitarku bisa menertawaiku. Dan aku bisa sangat malu. Aku benar-benar ingin sekali membantunya, akan tetapi aku tidak membawa sepeser pun di dompetku.

Aku benar-benar ingin membeli semua kuenya walaupun harganya tidak setimpal.  Tetapi apa daya? Kali ini aku belum bisa membantunya. Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin sekali mengatakan “Aku beli semua kue mu. Kau dan kakakmu boleh memesan apa saja.”. Mungkin ini hal yang agak aneh untukku. Tapi rasanya aku ingin sekali membantu mereka. Bagaimanapun caranya, aku ingin sekali. Tapi yang keluar dari mulutku adalah senyuman dan ucapan “Tidak, terimakasih”. Aku sangat menyesal telah mengatakan itu. Ia meninggalkan kami. Menghampiri kakaknya yang sedang mengemis. Mereka berdua masih sangat muda. Mungkin kakaknya berumur sekitar 14-16 tahun. Dari raut wajah mereka, terlihat sekali kalau mereka lapar dan haus. Tetapi... apa yang bisa dibeli dengan uang yang mereka bawa dan kue yang belum laku? Bagaimana ibunya menanggapi hal ini? Apa yang mereka dapatkan? Apakah mereka mendapatkan caci maki dan amarah? Bagaimana perasaan mereka jika ada orang yang tidak bertanggungjawab merampas semua uang mereka? Bagaimana jika...? Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku lontarkan.

Mereka akhirnya membeli sekantung plastik air es. Sebenarnya aku tidak tahu mereka ini membeli atau diberi. Jujur saja, aku tidak berani menatap mereka karena aku merasa sangat bersalah. Aku hanya melihat sekejap. Tidak berani terlalu lama karena aku telah mengecewakan mereka. Aku sangat terkejut, ketika mendengar pemilik toko bersama suaminya mengusir mereka dengan suara yang tidak enak. Aku.. merasa... sangat...sangat...sangat bersalah. Aku bodoh! Aku dungu! Sang pemilik toko hanya berteriak, membentak mereka hingga ketakutan. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan jika itu terjadi padaku. Apakah aku akan setegar mereka? Rasanya aku ingin melempar sesuatu ke pemilik toko itu dan membela mereka. Walaupun aku tahu, aku bisa diusir dan ditindak pidana kalau ia tidak terima denga perlakuanku. Tetapi, lagi-lagi yang aku lakukan hanya diam. Apa hanya itu yang bisa kulakukan?!

Friday, June 17, 2011

Blogwalking - My Milk Toof

Hello!
Ah, long time no see guys. Kemarin senin adalah pengumuman nem SD. Yep, rasanya dag-dig-dug-cenat-cenut! Well, hasilnya nggak memuaskan dan kurang maksimal (sangat kurang), but at least, aku alhamdullilah banget masih bisa dapet segitu. :') Paling enggak aku lulus ^^


Ok, back to the topic! Waktu aku blogwalking aku nemuin blog yang isinya unyu-unyu, My Milky Toof by Inhan Lee (about her). From the name, we can conclude what inside the blog! Okay, it's not about bread with jam at the top, or about milk we drink every morning. Yeah, initially I didn't know why she named it like that. And then I know, because she said...


 "When I was young, I placed my baby teeth under my pillow and when i woke up I'd find a shiny new quarter. But whatever happened to those little teeth? Where did they go? Would I ever see them again?
Many years later, a little tooth was standing at my door. It looked familiar. Its name was ickle. Welcome home, my milk toof!"


And yes! It because she missing her baby teeth, I guess. Yeah, this blog has a story. Not just a blog whose contents do not necessarily (just like mine). All the posts have a pic. A pics! A milk toof pics! Yes, a Milk Toof named Ickle and Lardee! She is creative!

She's an author, Inhaan Renee Lee.  The pic that the leaf tucked between her mouth  and nose. I would love to have her book.


Ickle : Smart and curious toof who love to read books. Other interest including cutting coupons, nibbling on furniture, and David Bowie.

Lardee : Is the loveable, slight pudgy toof who can be found following ickle around the house. If in need of a toy, Lardee has a magical red bag 

 with and endless suply.